Thursday, May 15, 2008
We're Moving!

Hey Guys!

If in some improbable event you are still visiting this site.... please mosey on over to our new home, www.plis-deh.com!

Gue jamin, jauh lebih keren!

Posted at 06:43 am by Joe Barry
spill your guts here!  

Sunday, January 08, 2006
dicari: copywriter lowongan kerja

Pagi-pagi, hari Minggu... baru bangun tidur, minum teh anget dan melaksanakan ritual wajib kaum pekerja Jakarta...

...nyari lowongan kerja.

It's true that most Jakartans are soooooo hard to please.  Belom punya kerjaan, nyari lowongan strata manajer.  Udah punya kerjaan, pengen nyari yang gajinya lebih gede.  Udah punya yang gajinya gede, pengen nyari yang gajinya lebih gede -kalau bisa dibayar pake dolar.  

Tapi yang namanya habit ya nggak bisa diapa-apain sepertinya.  Kayaknya udah refleks aja, Minggu adalah hari mencari lowongan nasional.

Saya termasuk kaum diatas.  Kaum pencari lowongan di Kompas Minggu.  Well, Sabtu juga sih sebenernya.  Tapi ada mitos di kalangan pencari lowongan ini, bahwa the best vacancies itu ngumpulnya di Kompas Minggu.  Jadi buat saya, acara nyari-nyari lowongan ini selalu dirapel di Minggu pagi.  Sungguh kegiatan yang menyenangkan sekali... apalagi kalau kelihatannya ada pekerjaan yang menarik. 

Bagi saya, ada tiga tipe iklan lowongan yang selalu bisa menarik perhatian.  Mereka adalah...

Tipe 1
Iklan lowongan kerja yang mencerminkan perusahaan bonafit.  Biasanya yang masang beginian nih contohnya Nokia, Adidas-Solomon, Siemens... pokoknya perusahaan yang namanya 'bunyi' di telinga.  Dan iklan-iklan lowongan kerja bonafit ini biasanya nggak tanggung-tanggung.  Setengah halaman koran, full-color dan ditulis dalam bahasa Inggris yang sungguh sempurna.  Alamat perusahaan jelas banget, malah kadang offering salary juga ditulis dengan jelas.  Good and great.  Kadang baru ngebaca aja udah deg-degan... timbul rasa sedikit kurang pede tapi hasrat melamar (bila ada posisi yang cocok dengan kualifikasi) langsung meninggi.

Tipe 2
Iklan lowongan kerja yang memang mencari posisi yang saya incar, namun bersifat sedikit misterius.  Misalnya: "An established Production House is seeking..."  an established itu maksudnya sampe mana ya.  Offering salary juga nggak dicantumkan.  Buat yang beginian, biasanya memancing saya untuk menelepon rekan-rekan yang bekerja di bidang yang ditawarkan guna memancing kira-kira perusahaan mana yang sedang mencari pegawai.  Dan... biasanya berhasil.  Alamat perusahaan juga kadang cuma ada e-mailnya atau PO.BOX.  Ini sih tergantung... kalau dari gosip-gosip beredar kedengaran menjanjikan, saya akan mencoba melamar... tapi kalau enggak... agak sedikit males.

Tipe 3
Iklan lowongan kerja yang ngga mungkin banget untuk dilamar -berhubung secara kualifikasi belum memenuhi-, tapi sungguh menggoda karena penawaran benefit, gaji bahkan job descriptionnya sungguh mendetail.  Biasanya dicantumkan oleh badan-badan dunia kelas berat seperti UNICEF atau Kantor-kantor kedutaan besar asing... atau NGO yang lagi ngetrend saat ini.  (Which often makes me wonder: katanya non-governmental organization yang non-profit... kok gajinya pada gede-gede banget ya?)  Biasanya, kalau lihat kualifikasi untuk NGO, banyak sih yang bisa saya penuhi... tapi lokasi penempatannya pasti bikin orang tua saya mendelik.  Jadi mendingan enggak deh.

Dari tiga tipe lowongan di atas, ada satu tipe rahasia (mari kita sebut saja tipe rahasia 4) yang selalu jadi hiburan disaat ritual cari lowongan itu tiba. 

Tipe rahasia 4
Iklan lowongan kerja dengan grammar yang salah.  Yang beginian banyak banget juga... dan saya heran kok koran se-prominent Kompas mau nerima iklan kacau begini... hkahakhakhakhak...  Behold our examples:

An manufacturing companies group is looking for new employees with conditions:
-  Healthy
-  Not older than 25
-  Bachelor degree in Accounting, preferable overseas graduate
-  Honest
-  Excellent English

Who wouldn't need somebody with excellent English for THAT company? WUAHAHAKHAKHAKHAKHAK!!!

Ada lagi iklan lowongan yang masuk kategori 'dia pikir orang bakal tertarik kali yeee...'  dan contohnya adalah sebagai berikut... (bear in mind that this is NOT fictional.  This is real)

Poor? Want Money? Get Rich?
Work with us! Get incomes in dollar!
Can get married after working 3 months!

Shit.  I was laughing so hard when I read that ad.  It was really REALLY pathetic.

Sebenernya banyak banget contoh-contoh gokil iklan lowongan kerja ancur beginian... but then, I figured... bentar ya... saya cari dulu koran-koran minggu lalu... and I'm gonna scan 'em for your eyes only!  For the time being... let me just post this ad...

Dicari
Copywriter untuk iklan lowongan kerja

Persyaratan
Dapat berbahasa Indonesia dan Inggris dengan sempurna
Tidak sok tahu
Tidak sok Inggris

PLIS DEEEEHHHHHHHH!!!!!!


Posted at 11:57 am by City Gal
vomits (2)  

Tuesday, December 20, 2005
I JUST DON’T GET IT (i)

Tau kan, public restroom yang ada banyak bilik toiletnya, kayak di mall-mall gitu..? Well.. I don’t know if it’s just me, or the Indonesian people (women, in this case, karena tentunya restroom yang gue masuki adalah women restroom) yang emang gak ngerti arti kata ANTRI (antre, antri, whatever).

The essence of ngantri adalah lo tunggu giliran lo untuk sesuatu, setelah orang yang dateng sebelum lo udah dapet gilirannya untuk sesuatu itu. Intinya, siapa yang duluan dateng, dialah yang dapet giliran duluan.

Nah... jadi, kalo lo masuk ke restroom itu dan ternyata semua biliknya occupied, ya lo tunggu dong sampe ada orang keluar dari ANY one of the biliks. Then you go in there. Orang yang dateng SETELAH elu, harus nunggu dong for the next empty bilik. And so on, and so on.

TAPI, yang sering terjadi adalah, tiap orang yang masuk ke restroom would wait in front of a certain bilik, and go in when the person inside it comes out. PADAHAL ada orang-orang lain yang udah dateng DULUAN ke restroom itu, cuma sayangnya mereka berdiri di spot lain, bukan di depan bilik yang orangnya cepet keluar itu.

HERAN.

Makanya gue SETUJU banget sama sistem antri di bank-bank jaman sekarang yang antriannya itu panjang sampe melingkar-lingkar, tapi mereka nggak ngantri khusus untuk satu teller aja, melainkan orang yang terdepan di antrian bisa maju ke teller mana pun yang udah selesai ama nasabah sebelumnya. Bener-bener siapa yang duluan datang, dialah yang duluan dilayani.

FIRST COME, FIRST SERVE. Or is it SERVED?
Whatever.

Originally posted by Ikan Sapi

Posted at 10:13 am by Joe Barry
vomits (2)  

Sunday, December 11, 2005
Water Is King

It's the rainy season in Jakarta, and the new King has arrived.

Whatever happens, when the water comes, everybody just stops. They stay in their buildings, they stop their cars on the street... giving a moment for the new King to pass. Why?

Because, when it rains here... IT REALLY RAINS.
when it starts raining hard... the defunct drainage system just lets the water flow onto the streets, even the main roads (yes, including those big four-lane roads)... motorcyclists stop under flyovers for cover from the rain... thus creating a city-wide traffic jam. the motorcyclists on a 2-lane road take up one lane (as there are tens of thousands of motorcylces in Jakarta), not to mention the flood, which can break down most of the older cars rolling in the street... as if we don't have enough of these traffic jams on usual sunny days...

so if it's raining outside... better to stay in.. or take your chances... taking forever to go where you're going to.

plis deeeeh...

Posted at 06:25 pm by Joe Barry
spill your guts here!  

Monday, December 05, 2005
Taxi

Walau ia dikenal sebagai alat transportasi paling
mahal di Jakarta, tidak bisa dipungkiri bahwa taxi
adalah alat transportasi paling nyaman. Taxi emang
enggak 'macet proof', dan suka aja ada hal2 nyebelin
atau ajaib yang didapet dari naik taxi. Dari mulei
urban myth supir taxi yang bekerja sama dengan
perampok untuk ngejahatin penumpang, sampai hal-hal
kecil yang sebenernya enggak penting seperti bapak
supir yang suka kebablasan curhat, enggak punya uang
kecil buat kembalian, dan lain lain.

Brand taxi emang hal paling penting. So far sih, taxi
paling top emang enggak ada yang nyaingin Blue Bird
(untuk pemakaian sehari-hari yaaa..jadi Silver Bird
sih kagak masuk itungan buat dompet gue-gue doang
mah). Sebagai runner up, Gamya bisa jadi pertimbangan,
soalnya dia masih satu keluarga ama Blue Bird.
Berikutnya, kalo dalem posisi kepepet amat, Express
masih lumayan aman dan nyaman kok. Sisanya sih,
kecuali kalo elo emang jago taekwondo, mending cari
alternatif laen (seperti nelfon temen elo yang
bermobil terus minta dijemput di *nama lokasi elo
berada*).

Tapi bersikap 'branded' dalam hal pemilihan taxi emang
cuman berguna buat memperkecil resiko-resiko yang
mayor. Biar taxi bagus pun, tetep aja ada hal-hal
minor nyebelin yang enggak bisa terhindarkan.

Pagi ini gue berangkat lebih pagi dari biasanya karena
ada meeting di daerah Cideng jam 10 pagi. Kosan gue
terletak di daerah Tulodong, jadi sebenernya jauh tapi
ya nggak jauh-jauh amat. Biasanya sih setengah jam,
maximum 45 menit, dan enggak lebih dari 25 ribu perak.

Gue berangkat jam 9.30 dengan taxi pesenan merk
*tiiiiiiiiiiiiit* (sensor demi kepentingan pihak yang
berkaitan). Supirnya pendiem (good sign, gue paling
gak suka pagi-pagi udh dicerewetin supir yang terlalu
ramah atau terlalu banyak komentar).

"Ke Cideng Timur, Pak..", kata gue. Biasanya, yang
udah-udah sih enggak ada masalah. Itu kan area yang
enggak terlalu ajaib buat supir taxi kan?

Mungkin karena udah terlena selalu dapet supir yang
tau jalan, gue (yang notabene asli Bandung dan walau
tinggal di Jakarta udah 4 taun tapi tetep enggak bisa
apal jalan) jadinya ya enggak terlalu apal rute jalan
dari Tulodong ke Cideng. Tau sih dikiiiit, tapi ya gak
luar kepala amat, gitu. Standrlah, entar kalo udah
sampe di jalan Cideng-nya gue bakal yakin harus ke
mana.

Anyway, si supir pendiem itu hanya mengangguk sopan.
"Good...", kata gue dalem hati. Gak akan terlalu
banyak masalah di jalan, jadi sementara sang taxi
meluncur, gue memusatkan pikiran gue ke hal-hal yang
bakal gue kerjain hari ini.

WRONG!

Taxi meluncur melewati Monas, jalur yang biasa gue
lewati kalau mau ke daerah itu, berarti memang si
supir kayaknya emang tau harus ke mana nih, kata benak
gue. Tapi enggak berapa lama kemudian..eh eh
eh..loh..kok jadi kayak mau ke arah kota?

Gue udah curiga, tapi dasar guenya juga agak dodol,
gue diem aja. Siapa tau si supir punya jalan laen
untuk menghindari macet, kata hati gue yang emang lagi
berusaha untuk tidak berprasangka buruk dulu.

LHA? kok malah sampe di Pecenongan? Perasaan
Pecenongan ama Cideng itu...jauuuuuh deh???

Si bapak supir dengan pe-de-nya berkata "Udah di
Cideng nih Non.."

"Pak..", kata gue hati-hati "Bapak sebenernya tau
nggak sih Cideng di mana?"

Si supir melakukan gesture standar orang bingung
(garuk-garuk kepala), lalu berkata pelan "Oh iya ya,
ini Pecenongan ya..saya kira Pecenongan itu Cideng..."

DUEWEWEWENG....!!!!

"Laen kaleeeeee Paaaaaak.....", cuman itu kata-kata
desperate yang keluar dari mulut gue, setengah nangis,
setengah kesel, sepertiga panik. Jam tangan gue udh
tereak-tereak sepuluh pagi, dan gue ada di daerah
macet, masih jauh dari tujuan gue, thanks to kedodolan
si Bapak Supir (dengan sedikit sumbangan kedodolan gue
yang terlalu gampang percaya ama orang).

Maka si Bapak pun berusaha untuk bertanggung jawab
dengan muter balik (lha emang dia bisa apa lagi?).
Sepanjang jalan, mulutnya sibuk komat-kamit "Cideng
ya..Cideng...Cideng..." (apaan seeh? baca mantra kali
ya dia? biar kita cepet sampe gitu?)

"Pak...", kata gue lagi "Jadi Bapak itu tau nggak sih
sebenernya Cideng itu di mana?"

Kembali gesture garuk-garuk kepala beraksi.

Celaka dua belas...Gak ada pilihan, gue pun menelfon
kantor pusat si taxi tersebut, minta tolong mereka
ngehubungin si supir lewat radio untuk ngasih
direction yang bener ke mana ia harus menuju (yah
maklum aja..penumpangnya bego juga).

Eh, si operatornya malah bilang dengan cuek "Ya suruh
aja dia ngontak pusat lewat radio, bisa kok..."

KENAPA GAK DARI TADI????

Akhirnya, thanks to direction dari kantor pusat,
setelah beberapa lampu merah yang diwarnai kemacetan
serta beberapa kali muter kemudian, sampailah gue di
Cideng pukul 10.30, dan gue harus membayar argo
sebesar LIMA PULUH LIMA RIBU perak...

Sebelum turun, gue memberikan sedikit surat wasiat
buat pak supir, "Pak..laen kali, kalo enggak tau jalan
atau enggak yakin, mending ngaku deh di awal, jangan
sok tau kayak tadi..."

Untungnya dia cukup sopan untuk mengangguk...

.....dan menjawab, "Iya..tapi tadi saya kira
Pecenongan itu Cideng..enggak taunya Cideng itu bukan
Pecenongan...*nyah nyah nyah nyah nyah*"

moral of the story: Jangan ngelamun kalo naek taxi.

contributed by Chibi

Posted at 09:09 pm by Joe Barry
vomit (1)  

Thursday, November 24, 2005
I Don't Think They Issue Season Passes

A Kopaja, a mid-sized bus where you pay fare on boarding, stops for a man; the man boards, and finds a seat. The conductor comes by the new passenger and jiggles change in his hand toward the man; the usual way of asking fare.
The man slicks his hair back and says "I just paid. You forgot, didn't you?" and doesn't even look at the conductor.
The conductor stares at the man with wrath for one full second before moving to other passengers.
Plis deeeh...

Posted at 09:14 am by Joe Barry
vomits (2)  

Safety Number 1

Two buses,filled to the brim, are stopping at a traffic light; the two drivers are talking to each other, the conversation indeterminant over the din of machine and muffler sounds. the light goes green, and the buses go on their way.

The driver of my bus turns to his conductor and says, "that guy; his brake fluid is leaking, and the brake plates are thin, yet he's still forcing the bus along."

I wouldn't want to be on that bus.

PLIS DEH!!!

Posted at 09:06 am by Joe Barry
spill your guts here!  

Monday, November 21, 2005
jalan tol

Kemaren ini saya ke Bandung, dan menemukan sebuah hal yang layaknya diperhatikan sama bapak-bapak penegak keamanan pengemudi jalan raya (eleuh, emang ada?).

Jadi gini, di Cipularang itu ada spanduk segede-gede tolol yang tulisannya gini:

"Selalu Gunakan Sabuk Pengaman Demi Keselamatan Anda.  Pesan ini disampaikan oleh... endeskrey endebrey endefrey..."

Kalimat yang belakang gak keliatan secara mobil saya udah lewat dibawah spanduk tersebut.  Lagiaaan, ditulisnya pake font yang bikin orang memicingkan mata dulu buat ngebaca.  No wonder deh kecelakaan jalan tol itu gede angkanya.  Secaraaaa... penyebabnya mungkin ya itu... terlalu banyak distraction yang nggak penting dengan desain yang juga gak diperhatikan dengan baik.  Mo pake sabuk pengaman juga gak ngaruh kaleeee...

Tengsin gak sih kalo dipikir-pikir ketika ditanya orang...

"Bo, kaki lu patah kenapa?"
"Kecelakaan di tol"
"Astaga... ditabrak truk kah?  Atau kepleset jalan licin?"
"Ehng...hh... itu... gara-gara baca spanduk..."

DUAAANGGG!!! 

Sebelumnya, buat yang pada suka gregetan sama tingkah laku pengemudi, pengendara motor dan pejalan kaki... even polisi... boleh mampir ke site ini.  Ckckckck... mbok yaaa yang tertib dikit gitu loh...

Plis deeehh...

Posted at 10:30 pm by City Gal
spill your guts here!  

Thursday, November 17, 2005
tentang PK PK ditengah kemacetan...

Hm...

It is against my policy to blog in working hours... but I couldn't help myself.  Dari tadi ngintip ke jendela, dan laporan pandangan mata nih... Rabu, 17 November 2005 pukul 13.17 jalan Kapten Tendean tampak lancar dan cenderung kosong.  Tunggu aja berapa jam lagi... pasti bentuknya udah gak keruan.  Ih.

Saya jadi inget jaman kerja di sebuah radio di ruas jalan utama MH Thamrin tahun 2001.  Sebagai produser morning show, saya tak pernah bermasalah dengan kemacetan pagi karena siaran dimulai tepat pukul 06.00 pagi.  Diatas kertas sih, saya bebas tugas jam 4 sore... tapi kenyataannya pulang jam 10 malem juga kayak biasa.  Lagi-lagi gak bermasalah karena emang udah gak macet.  Tapi pada suatu hari saya dengan isengnya nekat pulang jam 4 sore.  Pengen tau aja rasanya pulang kantor dengan matahari masih terang...

Suasana antara gedung Sarinah Thamrin sampai Bunderan HI memang sangat lancar.  Tapi lepas jembatan Dukuh Atas... OMIGOD!  Yang namanya mobil udah ngantri sengantri-ngantrinya!  PENUH BANGET!  Penasaran, saya melirik jam dan ternyata bener kok masih jam 4.15.  Sialan.  Mau telepon-teleponan sama temen... takut pulsa habis (secara waktu itu belom mampu langganan pasca bayar yaaa... yuuukkk..).  Mau denger radio... halaaahh... secara kerja di radio juga gitulooohh... BOSEN.  Mau nyalain tape... basi.  Akhirnya saya memutuskan untuk bengong, sambil memandang keadaan sekitar yang emang bikin stress.

Keadaan bikin stress ini tidak membuat saya sakit kepala... tapi perut tiba-tiba terasa cenat cenut menandakan kontraksi ringan.  Oh no.  Tanda-tanda alam memanggilkah?  Saya masih cuek, berdoa dalam hati supaya alam tidak memanggil ditengah kemacetan gila ini. 

Lima belas menit berlalu, saya baru sampai didepan gedung Arthaloka.  Terjadi lagi kontraksi sialan yang waktu itu diagnosisnya adalah gara-gara kebanyakan makan ayam goreng TEKUN (Tenda Kuning) waktu makan siang.  Saya mulai senewen.  Langsung diri ini melancarkan jurus PK PK dengan tololnya.  Apakah jurus PK PK itu?  Maap yak... PK PK adalah Pantat Kepala Pantat Kepala.  Jadi kalo sakit perut ingin pupi dan ga bisa karena ga ada tempat, pindahkan sakit perut kamu ke kepala dengan cara menepuk pantat lalu menepuk jidat sambil menggumamkan mantra keramat "Pantat Kepala... Pantat Kepala..."  gituh.  Kata orang yang ngajarin saya sih niscaya hal ini dapat menghindarkan kamu dari malu karena cepirit...  

Duapuluh menit berlalu dan saya tiba di depan gedung Dharmala yang keren itu...  Jurus PK PK tampak lumayan berhasil  tapi mendadak kontraksi terjadi lagi dan kali ini hebat sekali sampai merinding dan keringat dingin. Didepan saya ada tiga truk semen berendengan di satu jalur, disamping kiri ada satu mercedes yang supirnya belagu banget ogah disalip dan di jalur yang paling kiri sana ada suzuki charade tua yang rada kembang kempis.  Hayaaahhh sementara saya berada di jalur paling kanan.  Mau minggir juga nampak sulit karena udah di kiri pun tetap harus masuk jalur lambat dulu lalu nyari gedung yang cukup representatif untuk mengakomodasi panggilan alam yang datang disaat kurang tepat ini!

Akhirnya mercedes belagu dapat saya lalui dengan mental metromini walau supir mercedes itu ternyata jago bahasa Inggris (doi buka kaca nek... sambil teriak "F*CK YOU!!").  Charade butut ya terpaksa mesti ngalah karena emang gak mampu juga ngeduluin saya...  dan sampailah saya di jalur lambat dengan kondisi kontraksi perut makin menggila.  Lewat Central Plaza... masuknya ngantri (ada apa pula sih dengan gedung itu?  Gak penting deh).  Lewat Atma Jaya... hayah... *mendadak terbayang WC kampus tercinta yang enggak banget*.  Dulu belom ada Plaza Semanggi cong... bentuknya masih Graha Purna Yudha yang kelihatannya berhantu itu.  Akhirnya saya memutuskan untuk bandel dan masuk lagi ke jalur cepat sambil tetap ber-PK PK. 

Lepas Semanggi, masuklah saya ke jalur lambat lagi dan mencari gedung yang tempat parkirnya gak ribet.  Akhirnya pilihan panik jatuh pada S.Widjojo Center.  Lumayan lah tempatnya dan langsung parkir di belakang secara menyenangkan ga perlu nyari parkir susah-susah.  Masuk kedalam dengan setengah berlari... menahan hasrat memenuhi panggilan alaaaamm... terus sok-sok masuk ke perpustakaannya British Council.  Sungguh sempurna rencana ini karena didalem perpus itu banyak anak seumuran saya yang dandanannya gak jauh beda lah... funky-funky keren gitu.  Sok-sok mau ngambil brosur... padahal udah kebelet bukan main.  Akhirnya nanya sama si mbak yang nunggu:

"Mbak, restroomnya dimana ya?"
"Oh, itu ke kanan nanti lurus pintu pertama di kiri ya"
"Makasih"

Sok jalan tenang keluar dari perpus terus SPRINT ke WC yang ditunjukkan.  Pas banget begitu masuk kok ya KOSONG MELOMPONG!!! 

Dengan bahagianya saya melepas hasrat. 

Ketika upacara selesai, refleks saya mencari selang pembersih... dan TIDAK ADAAAA!!! HAYAAAHHHH!!!! Pake tissue?  Neng, walaupun kalo ngomong suka keminggris dan kebarat-baratan, soal yang satu ini mah saya Indonesia banget... gak bisa kalo gak ada aeeerrr!!!  

Lagi bingung-bingung gitu, tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada tiga botol berisi air yang berderet di lantai sebelah kanan.  Mungkin ini gunanya untuk...

Akhirnya I utilized them.  Thank God.

Dan baru-baru ini saya baru dikasi tau sama temen saya yang kerja disana... bahwa benar botol2 tersebut memang untuk bebersih... tapi mannernya adalah kalo abis pakai mohon diisi kembali demi kepentingan dan kenyamanan bersama.  Saya cuma bisa senyum-senyum penuh rasa bersalah.

Believe me guys, stuck ditengah traffic Jakarta bukanlah hal yang paling buruk di dunia.  Hal yang paling buruk di dunia adalah stuck ditengah traffic Jakarta dengan kondisi ingin pupi setengah mati.  Apakah pemerintah peduli sama keadaan ini?  Bukannya bikin WC umum yang bersih dan nyaman... dia malah asik asik bikin busway...

PLIS DEH!    

Posted at 01:42 pm by City Gal
vomits (2)  

Klakson Dan Knalpot

You know, Jakartans, especially the ones who drive a vehicle, have a fixation with... sound. Klakson. alat serbaguna yang pasti ada di setiap kendaraan, dalam berbagai bentuk, rupa dan suara. dan Knalpot. The muffler that really doesn't do its name justice.
Inilah rangkuman gue tentang kepercayaan-kepercayaan orang Jakarta sekitar klakson dan knalpot:

1. Hukum fisika selama ini salah. ternyata memang sebuah gelombang suara [yang berasal dari klakson] dapat menggerakkan benda padat, apalagi bila intensitas atau frekuensi bunyi tersebut ditingkatkan.
Example: Really big bus cuts into the outer lane, in front of a car and several motorcycles. the motorcycles and car sound their horns in unison, kontan bis langsung bergeser sedikit, paling tidak memberikan ruang untuk motor berlalu. If an alien were to come to Jakarta and witness this, they would assume that Jakartans have very powerful sound-based weapons.

2. Klakson lebih berguna daripada rem! people will sound their horns first before even thinking of hitting the brakes; God forbid losing momentum and really having to stop. Again, semakin sering klakson dibunyikan, makin efektif.

3. Klakson dapat membuka pintu dan membuat orang-orang sekitar menoleh, terutama bila dibunyikan berkali-kali. Pure fact. Terutama kalo klaksonnya dibunyikan di daerah perumahan.

4. A muffler has a different purpose in Jakarta. Instead of muffling the engine noise, it should amplify and modify the engine noise. The louder, the infinitely better.

5. Suara knalpot ini akan membuat orang-orang yang mendengar merasa senang dan tenang di hati; jadi tiap kesempatan yang ada, whether its at the traffic light or anywhere the vehicle is driving slow, pengendara akan menginjak gas supaya suara knalpot makin terdengar. This is a true civic duty. We all owe our happiness to these drivers, and their mufflers.

6. Sama halnya dengan knalpot, suara klakson juga memiliki kemampuan untuk membahagiakan dan menenangkan; sehingga banyak pengendara yang sering berbaik hati membunyikan klakson mereka sering-sering. Jakarta is such a lovely city with its symphony of horns.

7. Untuk mengkoordinir pembunyian klakson ini, pemerintah Jakarta menciptakan fungsi baru untuk lampu kuning pada lampu lalu lintas. When in other countries or areas, the yellow light only functions as a warning before the red light, in Jakarta, the yellow light also turns on before the green light. Ini tanda supaya pengendara membunyikan klakson mereka beramai-ramai di saat yang sama, untuk mencapai hasil yang optimal. Intensitas dan frekuensinya akan makin tinggi bila dibunyikan pada saat yang sama, sehingga efek pada masyarakat juga lebih kuat. As you can see, the local government is adept to these issues and actions accordingly.

These are the results of my research so far; but if anybody has some interesting leads, let us know!

Posted at 09:35 am by Joe Barry
vomits (2)  

Next Page

   



<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

If you have a suggestion, a story you'd like to post or would like to contact us, you can send an email to plisdehjakarta@gmail.com
Kalau punya saran, pengen nyumbang cerita, atau ingin menghubungi kami, kirim aja email ke plisdehjakarta@gmail.com


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed